Metode perbanyakan kurma tertua adalah dengan biji, juga dikenal sebagai perbanyakan seksual atau lebih dikenal dengan perbanyakan Generatif. Adapun kelebihan dari metode ini adalah akan didapatkanya varietas baru kurma dengan adaptasi lingkungan yang tentunya sudah stabil akan tetapi metode ini tidak ideal untuk propagasi/perbanyakan karena sifat kurma itu sendiri, karena kurma adalah tanaman dioecious spesies akibatnya setengah dari keturunannya akan berjenis kelamin jantan dan setengahnya lagi akan berjenis kelamin betina (Jain, 2012) tanpa ada cara pasti untuk menentukan pada tahap awal jenis kelamin keturunannya, maupun kualitas buah atau serbuk sari sebelum berbunga. Hasil ujicoba yang dilakukan di Indonesia ditanam 60 bibit kurma dari biji dan hanya menghasilkan satu kurma betina yang berbuah.
“Metode perbanyakan dengan biji akan mendapatkan varietas baru kurma”
Tanaman betina yang berasal dari biji biasanya menghasilkan buah yang matangnya terlambat dengan kualitas yang bervariasi dan umumnya lebih rendah dibandingkan dengan tanaman induknya. hasil penelitian di perkebunan yang memakai bibit dari biji, jarang sekali ada lebih dari 10 persen pohon kurma yang menghasilkan buah dengan kualitas memuaskan.

Pohon kurma juga bersifat heterozigot, sehingga akan terdapat banyak variasi dalam keturunan dan karakteristik bahkan karakteristik yang diinginkan dari pohon induknya mungkin hilang (Mater, 1986), artinya dalam 1 tandan buah kurma jika bijinya kita tanam maka tidak akan ditemukan 2 pohon kurma yang memiliki karakteristik yang sama, hal ini akan sulit untuk menghitung potensi produksi, kualitas buah dan waktu panen, sehingga sangat sulit dipasarkan dalam satu kali panen.
Berpikir Bijak dalam perbanyakan dengan menggunakan biji
Perbanyakan generatif dengan biji pohon kurma mesti kita tindak lanjuti secara bijak artinya jika untuk keperluan penelitian atau pemurnian atau sekedar mengaharapkan meliliki varietas baru maka perbanyakan dengan biji kurma cukup efektif untuk dilakukan karena metode yang paling mudah dan cepat untuk dilakukan, akan tetapi bila tujuan untuk mendapatkan hasil yang maksimal secara ekonomis maka metode propagansi dengan biji tidak efektif karena akan terjadi pemborosan baik waktu, uang dan areal kebun.
Harapan dan semangat untuk mendapatkan varietas baru kurma dengan menanam dari biji tetap harus dilakukan sehingga nantinya akan ditemukan varietas kurma asli Indonesia, akan tetapi harus tahu resiko untung ruginya, dalam sejarah kurma kita tahu bahwa kurma sudah ada sejak ribuan tahun lamanya dan saat ini sudah di data ada lebih dari 300 varietas dan hanya sekitar 20 jenis varietas kurma betina unggulan yang menjadi primadona dunia karena pertimbangan karakter rasa, potensi hasil panen, ketahanan buah dan beberapa hal lain.
Keadilan Tuhan dalam seleksi Alam
Dengan cara yang mudah dan biaya yang realtif rendah metode propagansi dengan biji menjadi pilihan dan pada saatnya Tuhan akan memberikan bagi mereka yang terbatas pendanaannya akan dikaruniai varietas baru kurma asli Indonesia, Jadi tetap semangat menanam kurma.
